Tradisi yang berlangsung meriah tersebut menjadi perpaduan antara nilai keagamaan, budaya, dan ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi. Buceng raksasa berisi aneka hasil pertanian diarak dari lingkungan Biting menuju Balai Kelurahan Kadipaten.
Arak-arakan semakin semarak dengan iringan berbagai hiburan dan tetabuhan tradisional. Antusiasme warga terlihat sejak rombongan kirab mulai bergerak hingga tiba di lokasi utama acara.
Setibanya di Balai Kelurahan Kadipaten, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama. Doa tersebut menjadi ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan tanah serta hasil bumi yang diberikan kepada warga.
Usai doa dipanjatkan, warga yang sejak awal menanti langsung memadati area buceng. Mereka berebut aneka hasil bumi yang menjadi bagian dari Buceng Porak untuk dibawa pulang.
Bagi masyarakat, tradisi tersebut bukan sekadar berebut hasil bumi. Di balik Buceng Porak tersimpan doa dan harapan agar keberkahan senantiasa menyertai kehidupan keluarga serta masyarakat Kelurahan Kadipaten.
Kepala Kelurahan Kadipaten, Mas Aji Condro Purnomo, mengatakan kirab budaya dan Buceng Porak merupakan bentuk doa yang diwujudkan melalui tradisi. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi simbol sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas kesuburan tanah Ponorogo, khususnya wilayah Kelurahan Kadipaten.
“Ini adalah doa teatrikal kita kepada Gusti Kang Akaryo Jagad. Ini adalah simbol dari sedekah bumi, wujud rasa tahu diri dan rasa syukur kita atas tanah Ponorogo, khususnya Kelurahan Kadipaten yang subur,” katanya.
Menurutnya, hasil bumi yang diperebutkan warga memiliki makna lebih dari sekadar bagian dari kemeriahan tradisi. Hasil bumi tersebut menjadi simbol doa bersama untuk kehidupan yang lebih baik.
“Lewat buceng hasil bumi, terselip doa kita bersama. Semoga keluarga kita di rumah diberikan kesehatan, anak-cucu kita diberikan kelancaran hidupnya, dan bumi Ponorogo dijauhkan dari segala marabahaya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan berbagai pihak yang telah berpartisipasi dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.
“Terima kasih saya ucapkan kepada semuanya yang telah rela dan berpartisipasi dalam tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga membawa berkah bagi kita semua,” tegasnya.
Ucapan tersebut pun diamini warga yang hadir. Tradisi Buceng Porak menjadi momentum yang tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mempererat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Kelurahan Kadipaten.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Babadan Siti Hanifah, S.STP., M.Si., Kepala LPMK Bimo Aji, para Ketua RT dan RW se-Kelurahan Kadipaten, serta tokoh masyarakat setempat.



Posting Komentar