PONOROGO, Jatimsatu.com – Bentuk kepedulian terhadap kelestarian budaya terus ditunjukkan PO Narendra dengan menggelar pentas Reyog di garasi bus miliknya di timur Terminal Seloaji, Ponorogo. Kegiatan tersebut menjadi wujud apresiasi nyata kepada para pelaku seni Reyog yang selama ini konsisten menjaga warisan budaya leluhur.
Pagelaran budaya itu berlangsung meriah dan dipenuhi ratusan seniman Reyog dari berbagai daerah. Selain menjadi ruang hiburan rakyat, acara tersebut juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan nilai “peseduluran” antar pelaku seni tradisional.
Owner PO Narendra, Wahyu Wardhani mengatakan, kegiatan tersebut sengaja digelar sebagai bentuk penghargaan kepada para warok, pengrawit, penari hingga seluruh pelaku seni yang tetap setia melestarikan Reyog Ponorogo di tengah perkembangan zaman.
“Kita memberikan ruang berekspresi sekaligus bentuk penghargaan kepada para warok, pengrawit dan penari yang selama ini menjaga tradisi secara konsisten,” tegas Wahyu Wardhani.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui seremonial, namun harus diwujudkan dengan dukungan nyata berupa panggung pertunjukan dan keterlibatan generasi muda agar nilai moral dan filosofi Reyog tetap hidup.
Ia juga mengaku terharu atas antusiasme para seniman Reyog yang datang secara mandiri demi menyukseskan acara tersebut.
“Ini luar biasa. Nguri-uri budaya itu lahir dari hati dan rasa memiliki. Saya sangat mengapresiasi kekompakan para pelaku seni Reyog,” ungkapnya.
Wahyu menegaskan, dirinya berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Reyog Ponorogo yang telah dikenal hingga mancanegara. Ia menyebut grup Reyog yang kini dipimpinnya merupakan kelanjutan dari grup “Singo Nuswantoro” milik ayahnya, Drs. H. Sudjarwo asal Siman, Ponorogo, yang kini berganti nama menjadi “Singo Narendra”.
Jejak kecintaan keluarga terhadap Reyog, lanjut Wahyu, bahkan sudah terlihat sejak lama. Salah satunya melalui keberadaan kepala Reyog yang berjajar di pintu masuk garasi PO Narendra sejak tahun 1994.
Saat disinggung terkait kesiapan menghadapi Festival Reyog Nasional 2026, Wahyu memastikan grupnya siap tampil maksimal untuk ikut menyemarakkan Grebeg Suro.
“Target juara tidak ada, yang penting ikut meramaikan dan melestarikan budaya Reyog. Terima kasih kepada seluruh pelaku seni yang selalu peduli terhadap Reyog Ponorogo,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Agus Salim mengatakan, awalnya pihak panitia hanya mengundang sekitar 120 dadak merak. Namun di luar perkiraan, jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 150 grup Reyog dari berbagai daerah.
Tak hanya dari Ponorogo, sejumlah grup Reyog juga datang dari Magetan, Wonogiri, Surabaya, Jakarta hingga wilayah Jawa Tengah untuk ikut memeriahkan acara tersebut.
“Grup Reyog itu seperti saudara. Satu grup diundang, yang datang bisa lima sampai tujuh grup. Persaudaraannya luar biasa,” ujar Agus Salim yang akrab disapa Debleng.(dik)



Posting Komentar