Ponorogo, JatimSatu.com – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DPC Kabupaten Ponorogo menegaskan komitmennya untuk mendorong petani tidak sekadar menjadi produsen pangan, tetapi juga tampil sebagai kekuatan utama penggerak ekonomi desa.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) HKTI DPC Kabupaten Ponorogo masa bakti 2026–2030 yang digelar di Hotel Putra Dewa 3, Ngebel, pada 8–9 Agustus 2026. Mengusung tema “Petani Berdaya, Pangan Mandiri, Ekonomi Desa Tumbuh”, Rakercab menjadi momentum konsolidasi sekaligus penyusunan program kerja HKTI untuk satu tahun ke depan.
Ketua DPC HKTI Kabupaten Ponorogo, Sugeng Hariyono, ST, menegaskan Rakercab bukan sekadar agenda organisasi, melainkan menjadi titik awal untuk memperkuat peran petani dalam membangun kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.
“Rakercab ini bukan sekadar agenda rutin. Ini momentum untuk menggerakkan petani menuju kemandirian,” ujar Sugeng.
Menurutnya, HKTI mendapat amanah besar dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Karena itu, petani harus mulai mengambil posisi strategis dalam rantai ekonomi dan tidak hanya menjadi penonton dari perputaran hasil produksi pertanian.
“HKTI diberi amanah untuk menyukseskan swasembada pangan. Kini saatnya petani tidak lagi hanya jadi penonton,” tegasnya.
Sugeng menilai selama ini petani masih kerap berada pada posisi yang lemah dalam mata rantai perekonomian. Di satu sisi petani menjadi produsen pangan, namun di sisi lain belum sepenuhnya menikmati nilai ekonomi dari hasil produksinya.
Ia melihat perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian saat ini semakin besar, khususnya di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau masih ada yang bilang petani tidak sejahtera, bisa jadi dia bukan petani,” ucapnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa perhatian pemerintah harus diikuti dengan penguatan kelembagaan dan kemampuan petani dalam mengelola hasil produksinya. HKTI Ponorogo, kata Sugeng, ingin membuktikan bahwa petani daerah mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat desa.
“Mari kita buktikan petani Ponorogo hebat dan menjadi lebih sejahtera,” tegasnya.
Perkuat Rantai Pasok Program MBG
Salah satu fokus yang akan dikembangkan HKTI Ponorogo adalah memperkuat keterlibatan petani dalam rantai pasok program Badan Gizi Nasional (BGN), khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG).
HKTI akan mendorong terbentuknya hubungan langsung antara petani dengan dapur penyedia makanan program MBG. Dengan pola tersebut, hasil pertanian diharapkan dapat terserap secara lebih pasti tanpa harus terlalu bergantung pada tengkulak.
“HKTI akan menjadi penghubung antara petani dan dapur penyedia, sehingga hasil panen bisa langsung terserap tanpa melalui tengkulak,” jelas Sugeng.
Menurutnya, kebutuhan komoditas untuk program MBG dapat dipetakan berdasarkan menu yang disusun secara berkala. Komoditas seperti buah, sayuran, hingga hasil peternakan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan dapur MBG sekaligus diselaraskan dengan jadwal panen petani.
“Komoditas buah, sayur hingga hasil ternak akan dihitung berdasarkan kebutuhan menu dua mingguan program MBG dan disesuaikan dengan jadwal panen petani,” paparnya.
Dengan pola tersebut, HKTI berharap terbentuk ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan. Petani memiliki kepastian pasar, sementara kebutuhan bahan pangan untuk program MBG dapat dipenuhi dari hasil produksi lokal.
Tak Hanya Pertanian, HKTI Garap Peternakan dan Perikanan
Sugeng menambahkan, penguatan ekonomi petani tidak akan berhenti pada sektor tanaman pangan. HKTI Ponorogo juga akan mengembangkan potensi peternakan, perkebunan, dan perikanan sebagai bagian dari upaya memperluas sumber pendapatan masyarakat.
Untuk mendukung langkah tersebut, HKTI Ponorogo telah mendapat dukungan dari pengurus pusat koperasi HKTI. Selain itu, HKTI juga menerima bantuan sekitar 500 ribu bibit lele dari pemerintah yang akan menjadi salah satu bagian dari pengembangan sektor perikanan.
Menurut Sugeng, seluruh program tersebut harus segera diwujudkan melalui gerakan yang nyata dan terukur. HKTI tidak ingin program berhenti pada tataran konsep atau sekadar menjadi agenda organisasi.
“Gerakan ini harus dilakukan cepat dan konkret, tidak bisa santai. HKTI harus bekerja keras agar petani benar-benar sejahtera,” tandasnya.
Melalui Rakercab tersebut, HKTI Ponorogo menargetkan lahirnya program-program yang mampu memperkuat posisi petani dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi aktor utama dalam menggerakkan roda perekonomian desa.(dik)



Posting Komentar