Panen Raya Jagung Reog 126 Varietas MTE 09, Hasil Riset ITS Dinilai Petani Lebih Tangguh dan Produktif

PONOROGO, JATIMSATU.COM – Inovasi sektor pertanian berbasis research and development (R&D) mulai menunjukkan hasil konkret. Sedikitnya 100 petani dari wilayah Slahung dan Bungkal menghadiri panen raya Jagung Reog 126 Varietas MTE 09 di lahan PT Ponorogo Agro Mandiri (PAM), Sekar Pudak, Kamis (27/8/2026).

Varietas MTE 09 merupakan hasil kolaborasi pengembangan dan penelitian Prof. Mukhammad Muryono (Institut Teknologi Sepuluh Nopember/ITS) Surabaya dan Dr. Febri Hendrayana (Universitas Kahuripan Kediri sekaligus direktur perusahaan penelitian pertanian swasta Indonesia - CorresCo) yang diarahkan untuk mendukung penguatan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas komoditas jagung.

Panen raya tersebut turut dihadiri Prof. Muryono bersama tim peneliti ITS, jajaran Gapoktan, PT PAM, serta M. Mansyur Shodiq, Pimpinan Pondok Pesantren Ibadurrohhman Ngengong, Kota Blitar.

Direktur PT Ponorogo Agro Mandiri (PAM), Manto Setiawan, mengatakan antusiasme petani, khususnya dari wilayah Slahung dan Bungkal, menjadi indikator positif terhadap penerapan varietas tersebut di tingkat field trial atau lahan uji.

Menurutnya, sejumlah petani telah menanam Jagung Reog 126 Varietas MTE 09 dan pertumbuhannya menunjukkan performa yang baik.

“Hari ini kita panen Jagung Reog 126 Varietas MTE 09 sehingga para petani dapat melihat langsung kualitas dan performanya di lapangan,” kata Manto.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, MTE 09 memiliki sejumlah keunggulan, terutama dari sisi ketahanan terhadap penyakit dan potensi produktivitas.

“Sejauh ini terbukti lebih tahan terhadap penyakit dan hasil panennya juga jauh lebih bagus. Potensinya bisa mencapai 10 ton per hektare,” ujarnya.

Manto berharap panen raya tersebut tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi menjadi proof of concept bagi petani untuk melihat secara langsung kualitas dan potensi varietas MTE 09 sebelum mengadopsinya secara lebih luas.

“Kami berharap petani dapat membuktikan sendiri keunggulan Jagung Reog 126 Varietas MTE 09,” imbuhnya.

Sementara itu, Prof. Muryono, peneliti dari ITS, menegaskan pengembangan MTE 09 merupakan bagian dari fokus riset yang berkaitan dengan penguatan ketahanan pangan.

Menurutnya, proses penelitian tidak berhenti pada hasil panen saat ini. Evaluasi dan pengembangan akan terus dilakukan untuk memperoleh performa varietas yang semakin optimal.

“MTE 09 tidak melibatkan mahasiswa, tetapi seluruhnya dilakukan oleh tim peneliti. Ke depan akan ada MTE lainnya yang terus dikembangkan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa proses continuous improvement menjadi bagian penting dalam pengembangan varietas, sehingga hasil penelitian dapat terus dievaluasi berdasarkan kondisi riil di lapangan dan kebutuhan petani.

Di sisi lain, Ketua Gapoktan Kecamatan Slahung, Sugiono, mengaku telah mencoba menanam Jagung Reog 126 Varietas MTE 09. Berdasarkan pengalaman di lahan, dirinya menilai hasil yang diperoleh cukup memuaskan.

“Hasilnya sangat memuaskan. Tangguh, adaptif dan rendemen tinggi. Tentu ini akan kita sosialisasikan secara luas kepada para petani di wilayah Ponorogo,” pungkasnya.

Panen raya tersebut sekaligus menjadi momentum knowledge transfer antara peneliti, pelaku usaha pertanian dan petani. Dengan pendekatan berbasis riset serta pengujian langsung di lahan, pengembangan MTE 09 diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif dalam mendorong produktivitas jagung sekaligus memperkuat ekosistem ketahanan pangan di Ponorogo.(dd)

0/Post a Comment/Comments

Dibaca